Sunday, November 8, 2015

Mengenang Niccolo Galli, Benteng Azzurri Arsenal Yang Gugur Sebelum Berkembang

Penghormatan Arsenal terhadap Niccolo Galli (c) Arsenal FC
Tulisan ini sebelumnya pertama kali saya publikasikan melalui Bola.net.

Tanggal 10 Februari akan selalu dikenang sebagai salah satu hari yang memilukan dalam sejarah sepakbola Italia. Hari ini tepat 14 tahun yang lalu, salah satu defender berbakat yang digadang-gadang akan menjadi benteng masa depan Timnas Italia dan juga Arsenal, Niccolo Galli, meregang nyawa pada usia 17 tahun akibat kecelakaan lalu lintas.

Tak banyak memang saat ini yang mengenal nama Niccolo, karena karir pemuda yang lahir pada tanggal 22 Mei 1983 ini padam saat masih belum sepenuhnya berkembang. Niccolo sendiri lahir dengan mewarisi darah sepakbola dari sang ayah, Giovanni Galli, yang merupakan eks kiper Timnas Italia pada dekade 80-an.

Karena harus mengikuti karir ayahnya yang berpindah-pindah klub, Niccolo juga berulang kali berganti kostum semasa masih junior. Tercatat ia pernah menimba ilmu di tim junior Torino, Parma, sebelum akhirnya menunjukkan sinarnya bersama Fiorentina.

Talenta luar biasa Niccolo bersama Fiorentina membuat salah satu klub besar Inggris, Arsenal, kepincut. Niccolo pun akhirnya diboyong ke Highbury atas prakarsa Direktur Akademi Arsenal, Liam Brady pada tahun 1999. Brady memuji pemain bertinggi 188 cm ini sebagai 'seorang defender yang cerdas dan punya skill bagus'.

Pindah ke Inggris dengan usia yang baru genap 16 tahun, adaptasi Niccolo di London tidaklah mudah. Apa lagi saat itu skuat Arsenal saat itu belum se-plural sekarang, toleransi terhadap pemain asing belum terlalu tinggi.

Thursday, September 24, 2015

Sepucuk Pledoi Untuk Héctor Moreno dan Nicola Rizzoli

Momen ketika tekel Héctor Moreno mencederai kaki Luke Shaw (c) AFP


Tulisan ini telah saya publikasikan dengan sedikit perubahan melalui PanditFootball.

Cedera parah yang dialami oleh fullback Manchester United, Luke Shaw menjadi insiden yang paling disorot pada matchday perdana fase grup Liga Champions musim ini. Cedera tersebut didapatkan Shaw usai mendapatkan tekel keras dari defender PSV Eindhoven, Héctor Moreno kala keduanya tengah membela klub masing-masing dalam duel yang berlangsung di Philips Stadion, Eindhoven (15/09).

 Akibat insiden yang terjadi saat laga baru berjalan 15 menit tersebut, Shaw mengalami patah tulang fibia dan tibula sekaligus. Jika berkaca pada kasus cedera sejenis yang dialami pemain lain sebelumnya, Shaw diprediksi harus menepi dari lapangan minimal selama enam bulan. Kemungkinan terburuk, Shaw bisa jadi akan melewatkan kesempatan untuk tampil di putaran final Piala Eropa 2016 bersama Inggris akibat cedera fatal ini.

Nasib buruk yang menimpa Shaw ini langsung menuai simpati dari pemerhati sepakbola di seluruh dunia, apalagi video dan foto yang menunjukkan betapa mengerikannya cedera pemain 20 tahun ini tersebar begitu cepat di dunia maya. Tentu saja fans United menjadi pihak yang paling terpukul akibat cedera Shaw tersebut, mengingat musim ini pemain bernomor punggung 23 tersebut merupakan pemain kesayangan publik Old Trafford.

Delapan kali memimpin pasukannya menjalani laga resmi musim ini, sebanyak itu pula Manajer Louis Van Gaal selalu menjadikan Shaw sebagai starter. Semua kepercayaan yang diberikan pelatih asal Belanda tersebut dibayar tuntas dengan penampilan konsisten oleh Shaw, sebelum akhirnya prahara di Eindhoven terjadi.

Karena itulah, bisa dimaklumi bila fans United begitu kesal terhadap cedera yang dialami oleh Shaw. Imbasnya, Moreno sebagai sosok antagonis yang membuat Shaw harus ditandu ke luar lapangan dengan mengenakan masker oksigen menjadi sasaran kebencian. Di dunia maya, fans United beramai-ramai menghujat pemain asal Meksiko tersebut atas tekel yang dilakukannya terhadap Shaw.

Salah satu sasaran mereka adalah akun Twitter @HectorMorenoH milik pemain jebolan akademi UNAM tersebut. Beragam caci maki dan kata-kata kasar ditujukan kepada Moreno yang dianggap sebagai villain yang telah mematahkan kaki dan mengancam kelanjutan karir Shaw secara sengaja.

Lantas menjadi pertanyaan tersendiri, layakkah Moreno dihujat sedemikian rupa dan diperlakukan seolah pemain bengis yang memang ingin mematahkan kaki Shaw?

Sunday, May 25, 2014

Kisah Pilu Atletico dan 40 Tahun Kutukan El Pupas

Momen ketika Sergio Ramos menyundul bola yang membuyarkan kemenangan Atletico Madrid di injury time final Liga Champions 2014 (c) Bleacherreport
Tulisan ini juga saya (M. Rizqi) publikasikan melalui Bola.Net

15 Mei 1974 akan selalu dikenang sebagai hari paling kelam dalam sejarah Atletico Madrid. Kala itu, Los Colchoneros menjalani laga final European Cup pertama dalam sejarah klub dengan menghadapi raksasa Jerman, Bayern Munich. Malam itu Atletico berpeluang mencatatkan tinta emas dalam sejarah klub, yang sayangnya justru berakhir dengan sebuah tragedi kelam dan 'melahirkan' kutukan yang terus menghantui mereka sampai puluhan tahun berselang.

Dalam laga tersebut, Atletico yang tampil sebagai underdog secara luar biasa mampu mengimbangi permainan Die Roten dalam 90 menit laga normal. Puncaknya adalah saat babak tambahan waktu tinggal menyisakan enam menit, tendangan bebas sang legenda, Luis Aragones melengkung mulus melewati pagar betis Bayern dan bersarang ke gawang kiper Sepp Maier yang sudah mati langkah.

Atletico pun larut dalam euforia juara, sebaliknya, kondisi mental Bayern sudah hancur berantakan mengingat mepetnya waktu yang tersisa. Saking desperate-nya Bayern, pelatih Udo Lattek hanya menjawab "Tak ada." saat salah seorang pemainnya bertanya apa yang harus dilakukan untuk mengejar ketinggalan.

Namun mimpi indah Atletico tersebut sirna hanya beberapa saat sebelum laga berakhir. 20 detik jelang peluit panjang, defender Bayern, Hans-Georg Schwarzenbeck dengan kikuk melepaskan tendangan keras menyusur tanah dari jarak 40 meter yang di luar dugaan sukses membobol gawang Atletico.

Pria kelahiran Munich ini memang tak memiliki catatan mencetak gol yang mumpuni, sepanjang karirnya ia hanya membukukan 21 gol dalam lebih dari 400 laga bersama Bayern. Karena itulah, tak ada seorangpun yang mengira Schwarzenbeck akan mampu mencetak gol penyeimbang. Bek Bayern lainnya, Paul Breitner bahkan mengaku ia sempat berharap agar Schwarzenbeck tak melepas tembakan yang berpotensi membuang peluang terakhir Bayern.

Karena sistem adu penalti belum diterapkan kala itu, hasil imbang memaksa laga final diulang di tempat yang sama, dua hari kemudian. Bayern tak melakukan kesalahan yang sama di pertandingan replay dan keluar sebagai juara dengan skor empat gol tanpa balas.

Begitu menyakitkannya gol tersebut, tak heran jika gol Schwarzenbeck menimbulkan luka mendalam di hati para penggawa Atletico. Presiden klub kala itu, Vicente Calderon, mengutuk gol tersebut dan menjuluki timnya sendiri dengan sebutan El Pupas, atau Yang Tersial. Julukan yang ternyata membawa dampak buruk untuk Atletico dalam jangka waktu yang sangat lama.

Saturday, January 25, 2014

Mohamed Salah, Anelka, dan Laten Kontroversi Anti Yahudi

Mohamed Salah, punya reputasi anti Yahudi di masa lalu

Tulisan ini juga saya (M. Rizqi) publikasikan melalui Bola.Net

Pengumuman resmi yang dikeluarkan Chelsea terkait kesepakatan yang dicapai dengan attacker Basel, Mohamed Salah, telah memantik reaksi yang beragam di kalangan pemerhati sepakbola. Kedatangan pemain asal Mesir ini bisa dibilang memiliki efek domino karena turut berpengaruh terhadap beberapa isu penting sekaligus.

Sebut saja soal pergerakan transfer Liverpool yang cukup lambat sehingga Salah menambah panjang daftar incaran mereka yang ditelikung oleh tim lain, atau selentingan bahwa datangnya Salah telah membuka pintu keluar bagi Juan Mata ke Old Trafford.

Dengan mengabaikan filler-filler tersebut, sebenarnya pembelian Salah dengan nominal yang disinyalir tak sampai 15 juta Pounds ini harus diakui adalah sebuah transfer yang cerdas. Meskipun bertubuh mungil, namun pemain berkaki kidal ini mampu tampil apik sebagai inverted winger di sisi kanan. Ia juga tak canggung ditempatkan di sisi kiri ataupun tepat di belakang striker.

Kecepatan, penempatan posisi, dan kualitas umpan silang yang mumpuni merupakan senjata andalannya. Menilik statistiknya bersama Basel, Salah membukukan 20 gol dan 17 assist dalam 79 penampilan di segala kompetisi. Tentu bukan tanpa alasan ia dijuluki sebagai 'Lionel Messi dari Mesir'.

Meski demikian, Salah juga memiliki sisi lain yang berpotensi merugikan Chelsea. Adalah sentimen anti-semitisme, atau sikap antipati terhadap komunitas Yahudi, yang menjadi bom waktu dalam diri Salah dan bisa meledak sewaktu-waktu di masa yang akan datang.

Friday, November 1, 2013

Suffaco Borriello, Keberadaan Yang Seperti Angin

Marco Borriello, unsung hero bagi Roma


Tulisan ini juga saya publikasikan melalui situs Bola.Net (M. Rizqi)

AS Roma berhasil mencatatkan rekor sensasional dengan meraih 10 kemenangan beruntun di awal kompetisi berkat kemenangan 1-0 atas Chievo pada kamis malam lalu (31/10). Adalah attacante gaek, Marco Borriello yang menjadi penentu kemenangan setelah sundulan terarahnya di menit ke 67 gagal diantisipasi dengan baik oleh kiper Christian Puggioni.

Itu adalah gol pertama Borriello bagi Roma musim ini. Untuk pertama kalinya dalam 10 giornata, pria 31 tahun ini mendapatkan penghargaan yang layak dari suporter Giallorossi yang mayoritas sejak awal musim mempertanyakan ketajaman Borriello.

Namun satu hal yang seringkali luput dari perhatian penonton bahwa terlepas dari predikatnya sebagai striker mandul, sebenarnya selama ini Borriello memiliki peranan yang cukup penting dalam skema permainan Roma. Jebolan akademi AC Milan ini menjalankan tugasnya sebagai suffaco dalam taktik kreasi allenatore Rudi Garcia.

Thursday, October 10, 2013

Delusi Publik Inggris Terhadap Adnan Januzaj

Adnan Januzaj, Image by AFP
Tulisan ini pernah saya publikasikan juga melalui Bola.net

Adnan Januzaj menjadi nama yang paling ramai diperbincangkan di jagat sepakbola Eropa belakangan ini. Mulai mencuri perhatian publik berkat penampilan apiknya saat mengikuti tur Manchester United ke timur jauh, pemain yang baru berumur 18 tahun ini semakin mendapat sorotan saat bermain cemerlang di ajang Premier League.

Euforia terhadap youngster yang wajahnya sekilas mirip artis Holywood, Macaulay Culkin ini akhirnya benar-benar meledak akhir pekan lalu. Bertempat di Stadium of Light, dua gol melalui tendangan first time yang dibenamkan Januzaj ke gawang Kieren Westwood berhasil menyelamatkan tiga angka krusial bagi United sekaligus membuka mata dunia terhadap talenta yang dimiliki si pemain kidal.

Segera usai pertandingan tersebut, beragam berita mulai dari pujian dari berbagai pihak hingga rumor ketertarikan klub-klub besar Eropa terhadap eks penggawa Anderlecht tersebut beredar di media.

Namun kabar yang paling menyita perhatian adalah rencana FA untuk menarik Januzaj agar bisa tampil membela The Three Lions. Wacana ini menghiasi headline berbagai surat kabar Inggris dan memantik berbagai reaksi dari tokoh-tokoh sepakbola terkemuka di negeri tersebut. Sebut saja Roy Hodgson, David Moyes, Wayne Rooney, dan Jack Wilshere telah mengungkapkan pendapat mereka mengenai kemungkinan Januzaj membela panji Inggris.

Sah-sah saja memang publik Inggris memiliki harapan tinggi untuk 'membajak' Januzaj. Di tengah gersangnya talenta muda lokal berkualitas, serta compang-campingnya prestasi tim nasional usia muda, munculnya seorang wonderkid di Premier League yang belum pernah bermain bagi negara manapun tentu terlalu menggairahkan untuk dilewatkan.

Pemain bernomor punggung 44 ini memiliki latar belakang yang luar biasa kompleks, memungkinkannya untuk bermain bagi setengah lusin negara Eropa sekaligus. Ia saat ini mengantongi paspor Belgia karena lahir di Brussels.

Melalui riwayat orang tuanya, ia bisa memperkuat Albania dan juga Kosovo. Bahkan jika dirunut ke belakang lagi, Januzaj juga berpotensi untuk membela timnas Serbia, Kroasia, dan Turki berdasarkan darah keturunan kakeknya.

Kembali ke topik awal, yang jadi permasalahan sekarang adalah, apakah benar Januzaj bisa bermain untuk Inggris? Apakah hanya dengan bermukim di Inggris selama lima tahun, lantas Januzaj bisa bermain bagi The Three Lions? Apakah harapan Inggris untuk memiliki Januzaj hanyalah delusi semata?

Mari kita bahas satu per satu.


Tuesday, March 12, 2013

Still A Long Way To Go, Samir!

Samir Handanovic, Image by ESPNFC


Tulisan ini pertama kali saya publikasikan di footballfandom.net

Jika anda menyaksikan Derby Della Madonnina yang dihelat pada weekend kemarin, tentu anda akan mengerti kenapa Samir Handanovic disebut-sebut layak menjadi man of the match di pertandingan tersebut. Aksi heroiknya di bawah mistar dalam menahan gempuran-gempuran AC Milan—termasuk memenangkan serangkaian one on one contest melawan Mario Balotelli—menjadi faktor penting yang membuat Nerazzuri berhasil mengamankan hasil seri.

Bagi anda yang rutin mengikuti perkembangan Serie A, nama Handanovic cukup dikenal sebagai kiper jempolan sejak bermain di Udinese. Salah satu temuan brilian lainnya dari jaringan scouting Le Zebrette yang rutin merekrut talenta berkualitas dari negara-negara non mainstream untuk kemudian diasah dan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Dalam urusan scout dan margin keuntungan dari penjualan pemain, Udinese mungkin hanya kalah dari  FC Porto.

Direkrut dari Domzale dengan free transfer dan sempat disekolahkan 2 musim di Serie B, Handanovic naik menjadi kiper utama Udinese sejak tahun 2007 menggantikan Morgan De Sanctis. Keberadaannya sangat vital bagi skuat hitam putih dalam konsistensi mereka sebagai kuda hitam di Serie A dan menjadi penghuni tetap Zona Eropa. Handanovic juga menjadi pilihan utama di bawah mistar Timnas Slovenia dan bermain di putaran final World Cup 2010.

Thursday, February 21, 2013

Juventus ‘Il Gigante Buono’, Bek Sekaligus Penyerang Kelas Dunia



My tribute to John Charles
Remembrance of his 9th death anniversary
21 February 2004 – 21 February 2013
All hail The Gentle Giant, The Real Example of Fairplay

Ketika anda sedang bermain game sepakbola seperti Football Manager, Pro Evolution Soccer, ataupun FIFA, pasti ada masanya ketika anda mencapai titik jenuh untuk bermain normal dan menuruti bisikan setan untuk menciptakan pemain “sempurna” di menu edit player. Jangkung dan kekar, unggul dalam bola atas tapi sekaligus lincah dalam pergerakan. Pemain allround yang tidak hanya memiliki shooting mematikan, tapi juga jitu merebut bola dengan tackling. Sama baiknya dalam atribut menyerang dan bertahan, sehingga skill di spider diagram-nya akan terlihat penuh ke sampai sudut-sudut. 

Anda akan terus memperhatikan bagaimana pemain sintetis tersebut menjadi pahlawan yang menghancurkan tim-tim lawan dalam tiap pertandingan. Sampai pada suatu ketika anda merasa semuanya menjadi terlalu mudah dan membosankan, anda kembali ke realita bahwa pemain sesempurna itu hanya eksis dalam dunia khayalan.

Tapi tahukah anda, di sepakbola pernah memiliki satu pemain abnormal yang memiliki skill kelas dunia dalam dua posisi, bertahan & menyerang sekaligus?

Wednesday, February 13, 2013

L'Affaire VA-OM, Skandal Sepakbola Terbesar di Prancis

Marseille Golden Era

Tulisan ini pernah saya publikasikan di footballfandom.net

Tragedi Sang Raja Eropa

Olympiastadion Munich, 26 Mei 1993. Pertandingan final Liga Champions antara Olympique Marseille melawan AC Milan memasuki menit ke 43. Marseille mendapatkan sepak pojok di sisi kiri pertahanan Milan yang dieksekusi oleh legenda hidup Ghana, Abedi “Pele” Ayew. Bola dilambungkan ke tiang dekat kepada Rudi Völler yang terlepas dari penjagaan Alessandro Costacurta, namun bola terlalu tinggi bagi keduanya. Tepat di belakangnya, Basile Boli mengalahkan double marking dari Frank Rijkaard dan Franco Baresi untuk kemudian mengarahkan heading akurat ke tiang jauh. Kiper Sebastiano Rossi mati langkah, terdiam melihat bola meluncur masuk gawangnya. Lautan biru putih di stadion langsung gegap gempita menyambut gol Boli, yang menjadi gol tunggal di pertandingan tersebut.

Marseille menasbihkan diri menjadi klub Perancis pertama—dan satu-satunya—yang pernah menjadi juara Eropa. Sang legenda Didier Deschamps yang baru berusia 25 tahun juga memecahkan rekor sebagai kapten termuda yang mengangkat trofi Champions. Tengoklah nama-nama yang menghuni skuat Marseille saat itu: Fabien Barthez berdiri di bawah mistar, mungkin tidak anda kenali karena saat itu dia masih berambut. Lini belakang L’OM diisi oleh palang pintu langganan Les Bleus seperti Manuel Amoros, Jocelyn Angloma, Basile Boli, Eric De Meco, dan Marcel Desailly. Mereka memiliki midfielder sekelas Deschamps, Dragan Stojkovic, Franck Sauzee, Jean-Marc Ferreri, dan Jean-Phillippe Durand. Sedangkan trio lini depan mereka juga sangat menakutkan: Völler, Ayew, dan Alen Bokšić yang saat itu menjadi top skorer liga. Tidak ada yang meragukan kualitas tim asuhan  Raymond Goethals tersebut.

Thursday, January 31, 2013

Arnau Riera, Kisah Tragis Calon Bintang Barcelona

Arnau Riera, mantan kapten Messi & eks tandem Iniesta

Tulisan ini pertama kali saya publikasikan di footballfandom.net

Apakah yang anda pikirkan ketika mendengar kata Barcelona B? Mungkin langsung terlintas di benak anda sekelompok pemuda berbaju biru merah bertiki-taka ria di sebuah kompleks akademi sepakbola yang konon terbaik di dunia. Ya, Barcelona B adalah tahapan filter terakhir dari akademi legendaris La Masia sebelum menembus skuat utama Barcelona. Tidak perlu saya sebutkan lagi rasanya siapa saja jebolan La Masia melalui Barcelona B yang menjadi tulang punggung generasi emas Blaugrana dekade ini. Begitu berjubelnya talenta di Barcelona B, banyak di antara mereka yang tidak berhasil menembus skuat utama Barca memutuskan pindah dan menjadi pemain andalan di tim lain. Tengoklah nama-nama seperti de la Pena, Rufete, Arteta, Bojan Krkic, Luis Garcia, Thiago Motta, dan masih banyak lagi yang lain.

Memiliki Barcelona B dalam curriculum vitae seolah menjadi jaminan bahwa seorang pemain bisa bermain bola dengan benar. Tapi kadang portofolio menjanjikan dan teknik bermain yang bagus belum tentu berujung kesuksesan, nasib dan pengambilan keputusan juga sangat berpengaruh bagi karir seseorang. Coba tanyakan itu kepada Arnau Riera, pemain yang digadang-gadang sebagai salah satu alumnus terbaik Barcelona B. Arnau pernah berduet dengan Iniesta di jantung lini tengah Barcelona B dan bahkan mengkapteni Messi. Ketika dua mantan rekan setimnya tersebut berebut gelar Ballon d’Or tahun ini, Arnau di usianya yang ke 31 justru terasing memperkuat CD Manacor yang bermain di Tercera División atau divisi empat Liga Spanyol.

Thursday, January 6, 2011

Indonesia, and (Another) AFF Cup Fiasco


Well, setelah liat kiprah timnas Indonesia secara menyeluruh dari awal sampe akhir, saya tergoda untuk bikin review tentang AFF Cup kali ini. Review AFF Cup bukan hal baru juga sih buat saya. 2 tahun lalu saya juga membuat review edisi AFF Cup tahun 2008 yang dijuarai oleh Vietnam. Buat yang mau baca, silahkan lihat ke sini: Vietnam Bisa, Kapan Indonesia?

Dari tulisan singkat saya 2 tahun lalu, jelas sudah ada perubahan berarti dari Timnas Indonesia, baik dari segi permainan maupun pencapaian. Setidaknya, di AFF kali ini kita masuk final dan selalu meraih kemenangan, kecuali satu partai di Kuala Lumpur melawan Malaysia (yang ternyata menghancurkan segalanya).

Saturday, July 24, 2010

Seminggu Setelah Drama di Afrika Berakhir...

Mandela and The Trophy


Pesta bola paling akbar tersebut nggak kerasa udah seminggu berakhir. Segala macam euforia Piala Dunia yang selama sebulan sebelumnya sukses menghipnotis milyaran orang di seluruh dunia perlahan mulai menghilang. Begitu Kapten Spanyol, Iker Casillas, mengangkat trofi Piala Dunia sebagai simbol Spanyol menjadi juara dunia yang baru, saat itu pulalah event empat tahunan ini mencapai klimaks dan resmi berakhir.

Saya sendiri sebelum turnamen berkomitmen untuk nonton SELURUH pertandingan (ya, saya nggak bercanda. SEMUANYA) di Piala Dunia tahun ini. Sebisa mungkin jangan sampai saya kelewatan momen penting di ajang prestisius ini. Awalnya lancar sih, tapi makin kebelakang, kondisi tubuh saya tidak bisa diajak kompromi, sehingga saya kelewatan lumayan banyak pertandingan putaran kedua dan ketiga di fase penyisihan. Untunglah di fase knockout saya tidak kelewatan satu pertandingan pun, kecuali Belanda vs Brazil yang bisa dianggap miss karena saya nontonnya putus-putus via streaming waktu menginap di kampus preparing seminar. Selebihnya saya tonton secara komplit.

Setelah nonton sekian banyak pertandingan, saya jadi punya perbandingan dan pandangan baru. Meskipun judulnya "World Cup", jangan dikira seluruh pertandingannya berlangsung seru dan ketat. Cukup banyak pertandingan yang berlangsung membosankan, terutama di putaran pertama kualifikasi (lebih jauh baca disini). Beberapa bahkan saking parahnya, menurut saya nggak lebih seru daripada pertandingan ISL (Liga Indonesia, buat yang nggak tau singkatannya) yang biasa saya tonton tiap pekan sebelum World Cup. 


Walau begitu, ada beberapa partai seru menguras emosi yang menyuguhkan drama dan epic khas Piala Dunia. Bagaimanapun juga ini adalah World Cup, event yang memiliki pressure dan exposure berkali-kali lipat dari pertandingan biasa. Kesalahan dan kekalahan yang terjadi di event ini bisa menimbulkan penyesalan dan hujatan puluhan kali lipat dibandingkan apabila terjadi di pertandingan reguler biasa. Begitu juga sebaliknya. Karena itulah, beberapa pertandingan yang akan saya sebutkan di bawah ini juga menyajikan drama yang terasa jauh lebih mendebarkan dibandingkan pertandingan biasa. Berikut ini adalah beberapa pertandingan pilihan saya, yang menurut saya layak disebut berkelas dan patut dikenang sebagai hall of fame dari World Cup 2010. Here we go...

Saturday, June 19, 2010

3 Hal yang Membuat World Cup 2010 Membosankan



Setelah wasit Howard Webb asal Inggris meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan Spanyol lawan Swiss, resmi sudah seluruh tim di World Cup 2010 ini telah memainkan pertandingan pertamanya. Sesuai tekad saya sebelum turnamen dimulai, saya menonton 16 pertandingan tersebut, seluruhnya. Yah... Walau nggak selalu full-time sih, paling jelek nonton siaran tunda satu babak. Jujur, setelah saya menonton semua laga pertama penyisihan grup, saya akui kalau saya berekspektasi terlalu tinggi pada Piala Dunia ini. Dengan menyesal harus saya bilang bahwa separuh lebih pertandingan di putaran pertama kualifikasi grup ini berlangsung MEMBOSANKAN. Mengapa?

Sunday, June 6, 2010

Nomor Punggung 10 di World Cup 2010, Siapa Aja?


(Pengen tahu skuad resmi dan nomor punggung dari tim favortimu di World Cup 2010? Pengen tau pemain mana pakai nomor yang mana? Daftarnya bisa didownload di sini atau di sini )

Piala Dunia 2010 tinggal seminggu lagi!!!

Menurut jadwal, kick-off pertandingan pembuka antara tuan rumah Afrika Selatan vs Meksiko bakal berlangsung tanggal 11 Juni 2010, atau bersamaan dengan hari terakhir UAS di kampus saya. Merayakan hari ‘kemerdekaan’ (setelah semua tugas dan proyek gila semester ini) dengan menyambut pesta bola terbesar tahun ini, rasanya lengkap banget. Soal Piala Dunia ini entah kenapa kok kayaknya efek ‘halo’nya tidak sebesar perhelatan sebelum-sebelumnya, terutama yang diselenggarakan sebelum millennium baru. 


Tuesday, March 9, 2010

Arema, Campione D'Inferno! (Arema Juara Paruh Musim)

Tulisan ini sebenarnya dipublikasikan pada tanggal 9 Maret 2010 di blog Blogspot saya yang lama. Blog tersebut kini sudah lenyap bersama dengan dihapusnya blog lama saya tersebut, dan tulisan ini adalah satu dari sedikit tulisan di sana yang masih terselamatkan. Namun demi alasan romantisme, maka saya tetap menggunakan tanggal tersebut sebagai tanggal posting di blog recovery saya ini. For the sake of more nostalgic feelings...


******************

Ketika ISL musim ini dimulai, apa ada yang berani memprediksi Arema jadi juara paruh musim?

Kebanyakan orang mungkin bakal lebih menjagokan tim-tim mapan dengan skuad bertabur bintang macam Persib, Sriwijaya, Persipura, Persisam, dan Persija. Jujur, saya sendiri, sebagai Aremania yang lahir besar di Malang dan sudah memperhatikan sepak terjang Arema sejak cukup lama, tidak berani berekspektasi tinggi musim ini. Persiapan pra-musim Arema sangat tidak matang--kalau tidak mau dibilang amburadul. Berawal dari hengkangnya PT Bentoel yang selama beberapa tahun terakhir menjadi backup utama Arema, kondisi tim menjadi terkatung-katung dengan susunan pengurus yang tidak jelas. Bahkan sempat muncul wacana-wacana "mengerikan" seperti merger dengan Persema atau pindah home base, meskipun akhirnya wacana-wacana tersebut tidak menjadi kenyataan.

Sunday, November 29, 2009

Yang Baru dari Siaran Langsung ISL

Tulisan ini sebenarnya dipublikasikan pada tanggal 28 November 2009 di blog Blogspot saya yang lama. Blog tersebut kini sudah lenyap bersama dengan dihapusnya blog lama saya tersebut, dan tulisan ini adalah satu dari sedikit tulisan di sana yang masih terselamatkan. Namun demi alasan romantisme, maka saya tetap menggunakan tanggal tersebut sebagai tanggal posting di blog recovery saya ini. For the sake of more nostalgic feelings...


*******************


Akhirnya nge-post lagi di blog ini setelah libur 2 bulan lebih. Sebenarnya ada banyak ide yang muncul selama 2 bulan vakum, tapi nyaris nggak ada realisasi dalam bentuk tulisan gara-gara nggak ada waktu atau mood-nya nggak dapet. Nah, mumpung sekarang lagi ada waktu luang dan kebetulan mood saya lagi bagus buat nulis, saya nge-post lagi. Kali ini berhubungan dengan topik favorit saya: sepak bola. Lebih tepatnya tentang Indonesian Super League (ISL) milik negeri kita tercinta.

Ya, setelah libur beberapa bulan, akhirnya bulan Oktober kemarin ISL musim 2009/2010 resmi dimulai. 18 tim terbaik dari seluruh Indonesia berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Buat beberapa orang, mungkin sepak bola Indonesia bukan tontonan yang menarik. Wajar sih, karena memang secara teknik permainan, individu, wasit, dan banyak aspek lainnya ISL masih bisa dibilang "cupu" kalau dibandingkan dengan liga-liga Eropa. Tapi buat saya sendiri, mengikuti pertandingan-pertandingan ISL memiliki daya tarik tersendiri. Setiap ada pertandingan yang disiarkan langsung, tim manapun yang bertanding, sebisa mungkin saya akan menyempatkan diri untuk menontonnya. Entahlah, ada daya tarik tersendiri dari tiap pertandingan ISL yang nggak bisa ditemui di liga-liga Eropa.

Sunday, May 24, 2009

Musim 2008/2009; Saatnya Para Juara Kepagian!

Tulisan ini sebenarnya dipublikasikan pada tanggal 23 Mei 2009 di blog Blogspot saya yang lama. Blog tersebut kini sudah lenyap bersama dengan dihapusnya blog lama saya tersebut, dan tulisan ini adalah satu dari sedikit tulisan di sana yang masih terselamatkan. Namun demi alasan romantisme, maka saya tetap menggunakan tanggal tersebut sebagai tanggal posting di blog recovery saya ini. For the sake of more nostalgic feelings...



*********



(Tulisan ini hanyalah analisa sederhana dari saya, Muhammad Rizqi, yang dibuat pada tanggal 23 Mei 2009, saat beberapa kompetisi masih berlangsung)

Tanpa terasa musim 2008/2009 udah hampir berakhir. Di beberapa negara, liga bahkan sudah "usai" sebelum waktunya karena sudah ada tim yang mengunci gelar juara. Beberapa yang akan dibahas di sini adalah sebagian kompetisi elit eropa yang sudah memiliki juara sebelum musim ini berakhir, yaitu AZ Alkmaar di Eredivisie Belanda, Internazionale Milano pada Serie A Italia, Manchester United di Premier League Inggris, dan Barcelona pada Primera Division Spanyol. Sedangkan 2 liga lainnya, Prancis dan Jerman masih sengit menentukan juaranya. Ligue 1 Prancis masih menyisakan Marseille dan Bordeaux yang bersaing dalam dua pekan tersisa dengan selisih 3 poin untuk keunggulan Bordeaux. Bundesliga Jerman belakangan sudah dijuarai Wolfsburg yang berhasil menyingkirkan Bayern dan Stuttgart di pekan terakhir. Kedua yang disebut terakhir tidak akan dibahas karena tidak melahirkan juara kepagian. Sebagai pelengkap, tidak lupa juga saya mencantumkan liga negeri sendiri, Indonesian Super League.

Saturday, March 21, 2009

Farewell, Jumadi Abdi; Syuhada' Sepakbola Indonesia

Tulisan ini sebenarnya dipublikasikan pada tanggal 20 Maret 2009 di blog Blogspot saya yang lama. Blog tersebut kini sudah lenyap bersama dengan dihapusnya blog lama saya tersebut, dan tulisan ini adalah satu dari sedikit tulisan di sana yang masih terselamatkan. Namun demi alasan romantisme, maka saya tetap menggunakan tanggal tersebut sebagai tanggal posting di blog recovery saya ini. For the sake of more nostalgic feelings...


**********
In Memoriam

Jumadi Abdi
14 Maret 1983 - 15 Maret 2009
Semoga arwahnya diterima di sisiNya, amin...



Baca selengkapnya untuk melihat video insiden cederanya Jumadi

Pagi itu, 16 Maret 2009, kira-kira jam 6 kurang seperempat. Saya sedang bersantai di rumah, minum Energen hangat sembari menonton Lensa Olahraga. Pagi hari senin gini biasanya rasa malas kuliah memuncak, apalagi sedang musim kuis besar di UMC. Waktu sedang asyik-asyiknya nonton highlight, ada sebuah running text di ANTV yang membuat saya tertegun:


"Jumadi (26) Pemain dari PKT Bontang telah meninggal dunia kemarin (15/3). Jumadi meninggal setelah seminggu dirawat di RS Pupuk Kaltim"


Membaca tulisan tersebut, saya lumayan shock. Jarang-jarang ada pemain sepak bola di Indonesia yang meninggal ketika masih aktif, apalagi yang bersangkutan bermain di level tertinggi seperti ISL. Tapi waktu itu, saya masih berikir mungkin meninggalnya Jumadi karena sakit atau something like that, seperti kejadian Eri Irianto-nya Persebaya dulu. Saya juga mulai mengingat, Jumadi yang mana ya? Sebagai maniak Liga Indonesia yang hampir selalu nonton pertandingan yang disiarkan live di TV, saya tau lebih dari separo nama yang beredar di ISL. Satu-satunya nama "Jumadi" yang pernah saya tau ya Jumadi Abdi. Belakangan ternyata benar, yang meninggal tersebut memang Jumadi Abdi.

Wednesday, December 31, 2008

Vietnam Bisa, Kapan Indonesia?

Tulisan ini sebenarnya dipublikasikan pada tanggal 30 Desember 2008 di blog Friendster saya. Blog tersebut kini sudah lenyap bersama dengan hilangnya Friendster, dan tulisan ini adalah satu dari sedikit tulisan di sana yang masih terselamatkan. Namun demi alasan romantisme, maka saya tetap menggunakan tanggal tersebut sebagai tanggal posting di blog recovery saya ini. For the sake of more nostalgic feelings...


**********

Stadion Phuket. Injury time menit ke-2, untuk sementara Thailand unggul 1-0 atas Vietnam lewat sundulan Teerasil Dangda. Saat ini Vietnam mendapatkan tendangan bebas dalam posisi menguntungkan, beberapa meter diluar kotak penalti Thailand. Kedua pelatih, baik Peter Reid di kubu Thailand maupun Henrique Callisto di pihak Vietnam sudah menghitung kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam perpanjangan waktu karena secara agregat keduanya bermain imbang. Sementara di lapangan, Van Thai Phan menghadapi tendangan bebas sambil memberi kode ke arah rekan-rekannya. Sejurus kemudian umpan lambung berbahaya dilepas ke kotak penalti Thailand, mengarah ke kepala Le Cong Vinh. Dengan posisi yang kurang menguntungkan karena terjaga ketat dan kepala yang terlalu rendah, dia memaksakan diri untuk menyambu umpan itu dengan bagian belakang kepala. Bola berubah arah secara tidak terduga, memperdayai kiper Kosin Hathairatanakool dan mulus menembus gawang Thailand. Gol. Le Cong Vinh mempermalukan Thailand di hadapan pendukungnya sendiri.

Ini adalah sebuah klimaks yang sempurna dari sebuah pementasan yang sangat dramatis. Vietnam tampil menjadi juara piala AFF untuk pertama kalinya, muncul sebagai kekuatan baru yang mematahkan dominasi dari Thailand dan Singapura yang telah sama-sama mengoleksi 3 gelar juara. Uniknya, dalam perjalanan meraih gelar juara Vietnam juga berhasil mengalahkan Thailand dan Singapura. Vietnam berhasil menjadi juara sejati di Asia Tenggara. Perjuangan heroik mereka akan terus dibicarakan sampai bertahun tahun ke depan.

Friday, October 31, 2008

Pelajaran “Lupa” dari Genoa

Tulisan ini sebenarnya dipublikasikan pada tanggal 30 Oktober 2008 di blog Friendster saya. Blog tersebut kini sudah lenyap bersama dengan hilangnya Friendster, dan tulisan ini adalah satu dari sedikit tulisan di sana yang masih terselamatkan. Namun demi alasan romantisme, maka saya tetap menggunakan tanggal tersebut sebagai tanggal posting di blog recovery saya ini. For the sake of more nostalgic feelings...


********
Adriano menghadapi double marking Giuseppe Biava & Matteo Ferrari

26 Oktober 2008. Minggu jam 8 malam. Seperti malam senin yang sebelum-sebelumnya, saya udah megang remote untuk nyari channel yang nyiarin pertandingan bola. Kebetulan minggu ini adalah saatnya kuis besar 2 di UMC, inilah saatnya melepas sedikit kepenatan dan rasa jenuh. 

Tadi sore sempat nonton pertandingan ISL: Deltras vs Persitara. Bukannya terhibur, tapi tambah jenuh. Dua tim tersebut bermain dengan kacau, nggak karuan. Umpan tidak terarah. Shooting asal. Drible payah dan sering terpeleset. Lapangannya juga dalam kondisi jelek. Terburuk dari semuanya: cuaca sedang hujan. Wah, klop sudah. Bener-bener menyesal saya menonton pertandingan tersebut.

Maka dari itu, untuk mengobati rasa kecewa yang begitu mendalam, malam itu saya ingin begadang nonton bola, sambil nyicil belajar DRPL. Jam 8, setelah siaran MotoGP, ada pertandingan Internazionale vs Genoa. Lumayan lah, seenggaknya bakal jadi tontonan yang bermutu daripada ISL. Maka stay tune-lah saya di Trans 7.

Melihat pertandingan dari awal ternyata jauh lebih seru daripada yang saya bayangkan. Pertandingan ini berlangsung dalam tempo tinggi, kedua tim bermain cepat dan saling serang. Bahkan Genoa, yang di atas kertas harusnya dibawah Inter, lebih mendominasi pertandingan. Memang sih, Inter tampil tanpa beberapa pemain inti seperti Walter Samuel, Amantino Mancini, Esteban Cambiasso, dan Patrick Vieira. Tapi Inter tetaplah Inter, tim besar yang sudah 2 musim juara berturut-turut (tanpa menghitung gelar gratisan dari Juventus). Mereka masih punya Sulley Muntari, Javier Zanetti, dan Dejan Stankovic di poros tengah. Di lini belakang juga Julio Cesar dilindungi oleh kuartet bek papan atas seperti Maicon-Cordoba-Burdisso-Chivu. Dengan tridente Quaresma, Adriano, dan Ibra “Kadabra” di depan, seharusnya mereka bisa mengatasi Genoa dengan mudah, bukan malah tertekan.